Ayah Menghancurkan Keluarga, Namun Ketegaran Ibu Membawa Cahaya

PORTAL SINDO - Tulisan ini bukanlah puisi, tetapi celotehanku yang pilu. 

Tulisan di bawah ini adalah kiriman sahabat Vemale.com yang bernama Salsa, untuk mengikuti Lomba Kisah Ramadan 2016. Ia bercerita kisah keluarganya yang pernah hancur dan saat ini sudah membuka lembaran baru.

***

Dapatkah kau pikirkan, hidup dari secuil harapan dan seciut kebahagiaan? Akan kugambarkan supaya kau mudah menerawang apa yang aku maksudkan. Aku yaitu manusia, sama sepertimu. Kau perlu makan, juga denganku. Kau perlu uang, juga denganku. Kau perlu kebahagiaan, juga denganku. Namun kisahku tidak sama. Kau tentu tahu Allah tidak akan menyamakan sejarah masing-masing manusia. 

Aku hidup diatas rasa pilu yang berlebihan. Sering aku ajukan pertanyaan pada Allah, saat kududuk diatas sajadah, “Inikah yang Kau inginkan? ” Seringkali dadaku sesak jika mengingat kisah lalu. Akan kuceritakan satu per satu. 

Kuawali dengan cerita yang terbasi pada saat hidupku. Cerita itu seperti mata pisau yang siap menusuk ulu hati dengan kesakitan yang bertubi. Pernah kau rasakan, saat seseorang yang harusnya membuat perlindungan berbalik jadi pembunuh paling hebat, pemberi rasa sakit terkuat? Cerita ini telah usang, untuk mereka-mereka yang sebatas mendengar. Tetapi, bagiku tidak layak untuk melupakan semua tanda tanya yang ada di ujung sakit itu. Seperti bermandikan air raksa saat kumasuki kembali dimensi kesakitan itu. 

Ayahku sendiri yang memandikan air raksa itu ke hati ibu, saya, serta adik-adikku. Ayahku sendiri yang bersedia menghunuskan pisau penuh toksin itu ke hati kami. Ayahku sendiri yang mengucurkan darah-darah pilu ke ujung masing-masing pipi kami. Ayahku yang ikhlas mendengar pelacur setan, yang tidak pernah diinginkan datang di kebahagiaan kami. Ya ayahku, dia seseorang pengkhianat. Dia koruptor yang paling jahat. Dia tidak segan mengambil kebahagiaan, walau sebenarnya dia bukan Tuhan. 

Ibuku yang mencintainya, yang ikhlas menjaga anak-anaknya, yang ikhlas melakukan hidup yang dibawanya. Serta ini balasan yang ia berikanlah. Kebahagiaan harusnya datang saat mendapatkan seseorang putra yang lama dinanti, berubah jadi cucuran pilu dengan tumpukan sinyal bertanya. Apa salah ibuku? Dosa apa yg tidak dapat Kau maafkan, Ya Allah? Sampai beraninya setan itu membuat ayahku jadi pengikutnya. Kenapa kau kirimkan setan itu pada kebahagiaan kami? Ketidakberterimaan itu yang senantiasa kutanyakan. Kuacung-acungkan tidak suka pada Allah saat itu. 

Pelacur itu membawa ayahku lari, ibuku menghidupi ketiga anaknya sendiri. Hidup yang ‘sempurna’. Saat sewajarnya anak memperoleh kebahagiaan dengan segudang senyum yang terhias, aku dan adik-adikku berbeda. 

Kuingat benar, saat itu aku duduk di bangku sekolah dasar, adikku baru saja melakukan sekolah taman kanak-kanak, sedang adik baruku lahir disambut darah penuh pilu. Andai ibuku dapat memilih, tidak pernah ia menginginkan melakukan hidup dengan tusukan duri di setiap sisi rasa sakitnya. Tidak ada ibu yang ingin lihat anaknya ada pada kesengsaraan, dan itu yang ibu berikan pada kami. Dia yang memikul dosa atas perbuatan setan dan ayah. Dia yang menanggung rasa sakit dan bercerita seperti pahlawan. Dia yaitu ibuku. Dia memperjuangkan kami dalam pinta-pinta yang sakral. 

Hilang akal aku, saat ibu memaafkan ayahku ikhlas, dengan dalih untuk anak-anak. Walau sebenarnya dari hati terdalamku tidak ingin mereka menyatu. Seolah-olah cinta mereka seperti poni Andika eks Kangen Band, sudah tahu tidak cocok namun dipaksakan. 

Makin lama mukjizat hampiri hati bapak, serta buka ayahku dari kebutaan setan. Ayahku yang menangis penuh sesal sesak, merengek-rengek dihadapan ibuku. Menciumi kaki ibuku seperti hamba dihadapan ratunya. Berikan kami rasa iba. Melakukan cerita hidup yang baru dengan rasa tidak nyaman. Namun tiap-tiap yang terikhlaskan bakal berbalas dengan kesungguhan bahagia yang terselimuti cinta. 

Bekas sinyal bertanya itu masihlah menggerayangi hatiku. Allah, inikah yang dimaksud saat? Saat manusia, juga aku, mempunyai saat mereka semasing. Saat untuk berduka, saat untuk meretas bahagia, semuanya pastinya akan ada masanya. Yang kita kerjakan cukup sabar serta ikhlas. 

Dapat kau mengerti? Saat air mata mendeskripsikan semua lara, serta kita mulai jengah? Di waktu tersebut kita dikira hidup. Tentu telah kau tahu, manusia hidup dinaungi partikel-partikel persoalan yang membuat jiwa, perasaan, serta sikap. Jadi, Allah tak dan merta menitipkan duka tanpa ada arti. 

-oOo-